Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kisah

Nulis Itu Dipraktekin

Bila tak salah ingat, buku "Nulis Itu Dipraktekin" ini sudah saya baca 5x. Atau kalaupun itu salah, setidaknya saya sudah membacanya lebih dari 3x. Ah entahlah, yang pasti buku ini cukup menarik dan menyenangkan dibaca walaupun berulang-ulang. Sebab topik-topik bahasan yang dijelaskan di dalam isinya tidak lebih dari 2 halaman. Yang mana semuanya bisa dijelaskan dengan singkat dan padat, dan itu sungguh mengagumkan rasanya. Paling tidak, buku ini cukup membantu saya sebagai r eferensi dan motivasi belajar menulis. Tapi yang lebih penting lagi, saya sadar bahwa belajar nulis memang harus dipraktekin. Karena pada kenyataannya, sebuah tulisan tak akan jadi apa-apa dan tak akan bisa ke mana-mana, jika hanya di angan-angan saja, tanpa ada usaha, tanpa dimulai dari rangkaian kata-kata. Kuncinya ya tak ada yang lebih utama memang selain dipraktekkin.

Selesai Membaca Buku Questioning Everything

Meski benar saya suka membaca buku, entah kenapa saya justru mengalami penurunan minat baca. Sebenarnya saya berpendapat begitu karena mengamati cara dan kebiasaan saya membaca buku dari waktu ke waktu yang sekarang sepertinya jadi lambat dan lama sekali mencerna setiap isi buku yang saya baca. Contohnya buku Questioning Everything karya Tomi Wibisono dan Soni Triantoro ini yang mulai saya baca dari sekitar bulan April lalu dan menjelang pertengahan bulan November ini, barula h bisa saya selesaikan dengan tuntas membacanya. Sejujurnya ini agak sedikit memalukan saya pikir jika dijadikan sebuah pengakuan, karena rasanya terlalu banyak waktu berlalu untuk membaca buku yang sebenarnya ketebalan bukunya sedang-sedang saja. Jika dikatakan berat sejujurnya tidak juga, malah sebaliknya buku ini asik dibaca, ringan, santai, seru, dan menyenangkan pula. Saya curiga, jangan-jangan ini semua karena mata saya yang gampang lelah dengan tulisan yang agak kecil dari biasa...

Jeda

Pagi masih teramat jauh Sebelum mata melewati tidur Benamkanlah ia segera Sebelum suara riuh bising berdenging Sebelum dunia terasa berguncang Sebelum tubuh ringkih meriang Sebelum sanubari rasa pecah memecah Terlelaplah menuju sinaran terang Hidupi mimpi walau sesaat waktu berlalu Pejamkan ego di antara hasrat nurani Bangkitlah nanti sebagai kesatria diri Beri jeda sementara Jambi, 20 April 2018

Merasa Keren ya?

Dua hari lalu, yakni hari Senin itu. Kebetulan aku sedang libur kerja, dan biasanya saat seperti itu, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan entah ke manapun hati dan pikiran ingin menuju. Dan kemudian saat sedang di jalan, atau anggaplah di pasar yang ramai sekali manusia dan kendaraan lalu-lalang. Tak lama, di sela waktu saat aku sedang menegak minuman dingin yang terbuat dari air saripati tebu, atau sederhananya sebut saja es tebu, di atas trotoar jalanan. Aku dibuat takjub dan salut melihat seorang lelaki dewasa, masih terbilang bapak-bapak muda, usia 30an yang berjalan kaki, hampir--hampir ala slow-motion mengibas sisi pinggir jalanan pasar, dengan pedenya memakai kaos putih dengan sablon khas #2019gantipresiden. Saat itu aku itu juga, sebenarnya aku ingin sekali ketawa ngakak so hard, tapi aku urungkan segera. Karena bukannya apa-apa, soalnya aku memang masih sedang dalam keadaan menegak es tebu. Aku bukan ingin tertawa soal topik #2019gantipresiden-nya...

Kenapa Manusia Tersinggung?

Karena ia membiarkan diri dan hatinya lemah diperdaya pikiran. Padahal tentu saja hati adalah yang paling tangguh dalam menjalani segala ujian dan kondisi perasaan. Tetapi tunggu sebentar, ada yang terlupa olehku. Ciri dan karakter manusia berbeda-beda antara satu dan lainnya. Sudah barang tentu juga bila hati yang menjadi inti jiwanya juga berbeda. Ada seorang yang s ebenarnya peka dan perasa namun tampak dengan jiwa tangguh. Ada yang sebaliknya, tampak peka dan perasa tapi tapi sebenarnya acuh dan abai. Tentu masih banyak lagi kombinasi emosional diri manusia yang lainnya. Tak terhitung karena keunikannya yang benar-benar di luar nalar dan perkiraan manusia, yang pasti di luar kendali manusia untuk mengetahui semuanya. Tapi sungguh hebat dan uniknya justru di situ, prasangka manusia yang satu dan lainnya yang tak sama bisa dan sering menyebabkan salah paham. Kenapa terjadi salah paham? Kembali lagi, karena memang hati sebagai rumah dari perasaan itu berbeda...

Selamat Hari Buku Sedunia

Aku tidak benar-benar Ingat, entah sejak kapan aku suka membaca. Baik itu membaca buku atau membaca apapun. Aha, sepertinya dari yang bisa aku gapai dalam kenanganku terdahulu sekali, bahwa aku mulai menyenangi kegiatan baca-membaca sejak bermain dan belajar mengeja saat di Taman Kanak-kanak alias TK dan saat Sekolah Dasar alias SD ketika belajar membaca sekumpulan huruf yang tersusun berpatah-pa tah di buku Bahasa Indonesia berseri edisi duet Budi dan Ani. Saat itu, hampir semua yang kebetulan aku perhatikan di depan mata, jika tertera tulisan di situ, pasti akan aku coba baca. Bahkan kebiasaan ini berlangsung sampai SMP. Ya, setiap kali melihat sesuatu yang terdapat bacaan, biasanya pikiran ini akan mengambil alih konsentrasi untuk segera menuntaskan bacaan tersebut, mulai dari plang/merk toko, koran, majalah, buletin, brosur, buku, booklet resep masakan, kemasan makanan dan minuman, juga kemasan produk apapun, spanduk, mobil brand, billboard, running text di tv,...

Sayap Harapan

Rindu-rindu hadir Di jiwa-jiwa yang berlendir Berasal dari sayap-sayap harapan Yang hinggap dari terbang berhari Mustahil terbang lagi Apakah gerangan sebab-musababnya? Pertanyaan mulai beringas menganga Meminta untuk diberi jawaban pasti Menagih atas kebenaran sahih Berupa alasan Berupa kepuasan Berupa kebaikan Berupa kedamaian Berupa keselarasan Berupa kemuliaan Berupa kebijaksanaan Berupa kesempurnaan Uraian tak akan putus sampai di situ Tanda tanya belum selesai berhenti Titik tiada sempat mengakhiri Saat pertanyaan kembali menyala Cerita terus berlanjut Sampai kemudian lalu bersambung Jambi, 20 April 2018

Lekas Tidur

Pintamu dari dalam kelambu Ke marilah, cepat Ayo sini, ke sini Sapaan itu Semakin nyaring di udara Menuju telinga Keluhan panjang Terus terngiang Beruntun Berulang-ulang Bujuk rayunya Tak berhenti juga Aku heran seketika Bingung dibuatnya Tak habis pikir jadinya Bagaimana bisa Bantal di atas kasur Melambai, menggoda Mengajak tidur segera Celaka

Takut Pada Prasangka

Ternyata setelah aku pikir-pikir, karena terlalu sering membaca buku self-improvement alias buku pengembangan diri. Jika aku perhatikan lagi, seringkali setiap aku menulis entah di blog, di medsos, atau di aplikasi chat, entah kenapa setiap ada sesi beropini, aku merasa sepertinya aku terdengar sok macam seorang motivator kepada orang lain. Dan aku tak tahu, apakah ini bai k atau tidak? Aku pikir, mudah-mudahan saja baik. Tapi sungguh aku sangat khawatir sekali atas ketakutan yang berasal dari prasangka buruk. Sebab hal semacam itu pasa titik tertentu memang cukup bisa menggangu pikiran dan perasaan. Rasa itu bisa saja membuatku jadi merasa besar kepala atau mungkin malah aku sudah lebih dulu terlihat besar kepala bagi orang lain, yang sejujurnya hal seperti itu sangat tidak aku dambakan sama sekali. Aku harap itu tidak terjadi, dan mudah-mudahan juga orang tidak beranggapan begitu kepadaku. (Lah, memangnya kau ini siapa ajir? Keluarga bukan, kerabat bukan, pacar bu...

Selesai Sudah

Di atap ketinggian langit menjulang Aku menatap hamparan semesta sekitar Jauh sejauh-jauhnya mata memandang Harapan hendak bersauh Di persimpangan jalan berkelok Tak jua lelah setapak langkah berhenti Panjang sepanjang-panjangnya lintasan meniti Hasrat ingin bersimpuh Perjalanan akan tiba sampainya Perjuangan di penghujung segera Akhirnya, selesailah sudah Jambi, 11 April 2018

Selamat Atasmu, Aku, dan Kita Semua!

Sungguh bosan menyaksikan kecamuk orang-orang di lini masa media sosial ini, yang saling sibuk merasa sok benar dan yang lainnya pula, saling asyik menyalahkan. Masing-masing sama saja, merasa paling benar, atau merasa selalu benar. Padahal dia pasti tahu dan sadar jiwa dan akal bahwa dirinya bukanlah Mahabenar, karena memang pasti bukan. Tidak ada yang ingin memilih salah, karena siapa juga yang ingin menjadi tumpuan kesalahan. Padahal manusia tempatnya khilaf, lupa, dan salah. Ah memang kita manusia selalu begitu. Ingin ku hapus saja mereka dari pertemanan, karena aku merasa cukup risih dan bingung mengamati mereka yang saling berdebat melempar argumen kebenciannya itu. Mau apa sebenarnya mereka? Ingin jadi agen kebaikan atau kebencian? Ingin dunia ini jadi indah dan membahagiakan, atau jadi kelam dan suram? Kalau aku, jelas sungguh tak menginginkan buih-buih pesimistis macam itu. Dunia maya kini memang sudah semakin sulit untuk jadi menyenangkan jika hal s...

Peristiwa Kenangan

Menemukanmu di antara pagi Kala resah dirundung keluh hati Buah dari gundahmu semalam Adalah tanda tanya besar di angan Rajukmu menyiratkan pesan Gelisah untuk pergiku yang akan jauh Kerelaan berat rasa dari pelukan Apalagi bila melepaskan genggaman Kau terpaut merenung sepanjang hari Enggan bicara pun walau sepatah kata Mungkin kau sengaja menyimpannya Agar diammu jadi alasan melempar sapa Di sela kemuramanmu kau titipkan rindu Surat-surat berisi riwayat lalu Kemelut jiwamu juga terasa hidup Berpacu seiring detik berkejaran Barangkali sejahteralah perasaan itu Sembari membingkai makna pertemuan Menyalakannya dari redup perpisahan Menceritakan ulang peristiwa kenangan . Jambi, 1 April 2018

Kecepatan Yang Terlalu Cepat

Jatuh dengan kecepatan 800km/jam, tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Ya sampai sekarang pun aku menaruh harapku yang tinggi dengan penuh kesungguhan pada tuhan, agar kenaasan celaka macam itu tidak akan datang menghampiri aku. "Jauhkan balak, Tuhan!" Kata orang Melayu. Jangan 800km/jam yang aku rasa cukup mustahil untuk orang-orang kebanyakan. Apalagi menemukann ya di jalan raya, kurasa tak akan ada yang mendapatinya. Jelas saja pekerjaan gila itu namanya. Kalaupun ada orang menggunakan kendaraan dengan kecepatan sehebat itu, mungkin dia tipikal atlet balap profesional tingkat dunia internasional. Itu jika kecepatannya meluncur ada di sirkuit balap yang mumpuni segala standard, spesifikasi, dan ketentuannya. Bagaimana jika dilakukan di jalan raya biasa? Aku pikir bodoh saja orang itu, ya pasti susah untuk bergerak cepat, presisi, dan lincah pastinya. Sudah tahu jalanan padat merayap seperti itu, ya keadaan ramai lancarpun tetap sama saja kan ...

Kekacauan Yang Menyentuh

Kita berkata hendak meruntuhkan sekat-batas yang ada. Namun nyatanya kita menciptakan lagi sekat-batas dalam bentuk yang baru. Kita terlupa sebab tipu daya dan bujuk rayu dunia. Yang mengalihkan mata, pikiran, serta seluruh jiwa raga pada hal-hal semu. Masing-masing kita saling bangga melempar amarah selalu. Kerap mencari siapa salah setiap waktu. Pongah menepuk dada ak an kebenaran semu. Abai dari kehadiran diri tanpa kesadaran penuh. Nyatanya kita lalai pada kehidupan diri sendiri yang sebenarnya juga tak pernah utuh. Namun tetap saja, keasikan mengurusi perkara orang lain seperti tiada kata jenuh. Sungguh ini adalah suatu kekacauan yang menyentuh. Jambi, 20 Maret 2018

Selamat Datang di Mahligai Mimpi

Aku sedang merencanakan cara menggapai nyala tekad bak api abadi itu. Memilin satu per satu gundah gulana pengganggu sebagai bahan bakarnya. Mengubahnya jadi seribu satu alasan kenapa harus berdikari? Kita tidak sedang membicarakan hal-hal abstrak, apalagi sesuatu yang nihil.  Kalau kau bingung, dan masih dihantui resah gelisahmu, kau bebas berhenti.   Bukankah kau tidak terikat pada apapun sebenarnya saat ini. Bahkan pada norma yang selalu berusaha kau patuhi. Pun walau nyatanya kau hendak berpaling arah jalan untuk kesekian kalinya setiap menemui persimpangan, tentu saja tak ada yang salah dari itu. Bagaimanapun siasat, keputusan sepakatmu adalah sah dan benar dalam persepsimu. Aku percaya tak ada yang terlanjur basah. Setiap hal yang terjadi adalah tuntunan garis takdir. Semuanya memiliki riwayat yang beralasan. Meski mungkin dalam ketidaktahuan yang meraja. Camkan itu sebaik-baiknya, seingat-ingatnya. Kau cukup meyakini dengan penuh art...

Menghidupi Mimpi-mimpi Kita

Di dunia ini, waktu terindah itu tak melulu soal jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi juga kala tiba saatnya waktu gajian. Dan dalam suasana syahdu karena baru saja gajian seperti sekarang ini. Hal yang selalu tak pernah lupa datang ke dalam kepalaku adalah ingin segera pergi ke toko buku. Entah itu ingin membeli satu atau beberapa buku, ataupun hanya sekadar cucimata saja. Pernah suatu kali di sebuah toko buku, saat sedang sibuk memilih buku yang dalam perkiraanku akan asik dan seru untuk dibaca. Kebetulan, waktu itu aku sedang bersama seorang teman yang memang berencana membeli buku. Dalam keasikan menelusuri rak demi rak buku, seperti biasa pula kami membicarakan hal-hal seputar buku yang ingin kami beli masing-masing, semacam sedang menceritakan sedikit deskripsi singkat dari buku tersebut. Lalu, di sela-sela percakapan itu, sempat pula kami menyikapi dengan bingung dan lucu tentang harga buku yang mulai naik. Di satu sisi kami tidak mengeluh karena cu...

Mimpi Anak Daerah

Apa kalian pernah mendengar tentang "Kuala Tungkal"? Masa tak pernah sama sekali ? Meskipun cuma sekali saja? Tetap tak pernah juga? Yang benar saja ini.  Atau begini, bagaimana dengan "Jambi' tentu pernah dong mendengarnya walau hanya beberapa kali atau mungkin hanya sekali. Setidaknya pasti pernah membacanya ketika belajar Geografi atau mungkin saat membaca nama-nama provinsi yang ada di Indonesia. Masih merasa tidak pernah mendengarnya sama sekali juga? Ya tuhan, siapa yang harus di salahkan ini? Jadi begini, saya adalah pemuda biasa dari daerah yang lahir dan sebagian masa pertumbuhan juga pendidikannya lebih banyak di habiskan di Kuala Tungkal, yakni salah satu daerah yang jadi pusat pemerintahan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Nah Tanjung Jabung Barat ini adalah satu dari 11 Kabupaten yang ada di Provinsi Jambi. Dan sekadar mengingatkan atau informasi bagi yang belum tahu sama sekali, Provinsi Jambi ini termasuk 1 dari 10 Provinsi yang ada di Sumatera...

Stephen King Kepada Rusty Borgens

Dalam sebuah film berjudul Stuck in Love (2012), ada sebuah fragmen di mana seorang Stephen King yang sedang terlibat pembicaraan lewat telepon dengan karakter bernama Rusty Borgens, seorang remaja pendiam yang sedang menggemari dan serius mendalami kegiatan tulis menulis. Setali tiga uang dengan Samantha Borgens, kakaknya yang juga sama-sama mengikuti jejak ayah mereka, William Borgens yang kebetulan diceritakan sebagai sosok penulis terkenal. Namun dalam hal menulis, walaupun banyak belajar dari ayah dan juga kakaknya, Rusty tidak tertarik untuk serta merta memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang bisa saja ia dapatkan untuk memuluskan jalannya. Sedikit informasi, Stephen Edwin King atau Stephen King seorang penulis novel termahsyur asal Amerika Serikat yang umumnya lebih sering dikenal menulis kisah horor, fiksi ilmiah, dan fantasi. Sejumlah karya-karyanya diperkirakan telah terjual lebih dari 350 juta eksemplar di seluruh dunia, dan sebagian di antaranya telah diadaptasi me...

Hening

Setiap aku pulang ke rumah, jika waktunya tepat di sore hari, mungkin aku akan bertemu dengan tante Tuti, adik mamakku yang berjualan aneka makanan dan minuman di depan rumah nenek. Kebetulan rumah orangt uaku  dan rumah nenek memang saling terhubung. Dan karena jalan utama di sekitar rumahku lebih dekat jika dilewati dari rumah nenek, jadi otomatis pula rumah nenek lebih sering jadi tempat berkumpul kami sekeluarga, baik saat santai ataupun melangsungkan acara syukuran, pengajian, dll. Nah lain cerita pula bila aku pulang ke rumah dan baru sampai saat malam hari, orang yang lebih sering aku temui pertama kali biasanya adalah nenek, karena di waktu-waktu seperti itu tante Tuti sudah lebih dulu pulang ke rumahnya untuk istirahat. Dan di saat-saat seperti itu seringkali aku dan nenek sedikit banyak membicarakan beberapa hal. Apapun yang mungkin dibicarakan, akan dibicarakan, umumnya sih hanya hal-hal yang ringan saja. Tak pernah sampai membahas kebijakan politik Gube...

Perang

Sepertinya jadi pengguna sosmed yang berusaha sok kalem dan diam itu juga tak ada untungnya ya. Soalnya jika hanya diam dan biasa-biasa saja, di timeline isinya bisa jadi seragam. Bisa perang pendapat saja. Perang komentar saja. Perang penistaan saja. Perang pencitraan saja. Perang teori saja. Perang gambar saja. Perang video saja. Perang hoax saja. Perang umpatan saja. Perang merasa paling benar saja. Dan perang melawan hawa nafsunya hanya trend ramadhan saja. Lalu perang karya mungkin agak jarang ya, karena memang bukan untuk diadu. Atau mungkin bisa diadu. Aha sepertinya yang lebih tepat bukan diadu. Bagiku sih rasanya karya lebih baik diapresiasi, dinikmati, dan dipelajari latar belakang dan ide kreatif di baliknya. Sedangangkan coba lihat perang pendapatan,  tak pernah ada yang mengumumkannya. Perang nilai raport sekolah tak pula pernah dibagikan. Perang pamer nilai IPK juga banyak yang tak ingin jadi terlihat sombong atau sebaliknya. Perang nilai sidang skripsi bagaimana...