Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hidup

The Peanut Butter Falcon

Apa jadinya kehidupan seseorang jika seringkali dihabiskan untuk lari dari sesuatu? Tapi kali ini bukan perkara lari dari masalah, sebab dia sendiri lah masalah tersebut. Ini adalah cerita tentang Zak (Zack Gottsagen), seorang pemuda yang mengidap down syndrome di sebuah tempat semacam rumah panti sosial, yang belakangan baru diketahui namanya, Brittayven. . Disana ada banyak orang selain Zak, yang umumnya orang tua jompo. Hanya saja, Zak memang tampak cukup jadi perhatian paling khusus dari yang lain, akibat selalu berusaha melarikan diri dari panti. . Persoalannya cukup unik, Zak terobsesi untuk bertemu dengan Salt Water Redneck (Thomas Haden Church), seorang pegulat profesional seperti Smackdown yang diidolakannya dari menonton video kaset VHS berulang-ulang bersama kakek tua yang jadi roomate-nya, Carl (Bruce Dern). . Carl pula yang pada suatu kesempatan nantinya berhasil membantu misi Zak untuk melarikan diri dari panti, setelah sebelumnya juga sempat bersiasat den...

Yang Dibuthkan Untuk Sukses

Ada yang pernah berpendapat, bahwa selain membutuhkan bakat dan usaha keras, untuk bisa membuka jalan menuju pintu-pintu kesuksesan, seringkali juga dibutuhkan sentuhan keberuntungan. Yang mana ini cukup langka. Sebab keberuntungan itu ada banyak jenisnya. Di antaranya ada keberuntungan berupa "waktu yang tepat" atau berupa "orang sebagai pembuka/penyambung jalan" atau ada pula yang menyebutnya sebagai "orang dalam". Meski ini agak lucu sebenarnya dan seringkali jadi berkonotasi negatif. Tak ada yang benar atau salah sesungguhnya, semuanya sah-sah saja di dunia ini. Karena siapapun berhak atas kesuksesan itu. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana cara menggapainya? Sebab katanya, jalan masing-masing dari kita memang sudah tersedia jatahnya sendiri-sendiri. Maka dari itu ketika bakat dan usaha keras sudah cukup diperjuangkan dengan baik, mungkin memang butuh waktu yang tepat atau bertemu sosok berjasa pembuka jalan. Atau biarkan semesta bekerja...

Perjalanan

View this post on Instagram A post shared by muhajir suardi (@ajirisme) on Dec 28, 2019 at 10:21pm PST Banyak orang bilang, bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang tanpa ada kata akhir. Meskipun, kadangkala sebagian orang yang sedang dalam kejatuhannya yang tak terperi, juga merasa kalau dari setiap kenyataan yang terjadi, telah merenggut banyak hal dari kehidupan mereka. Karena seperti yang kita ketahui bersama, bahwa masalah demi masalah di dunia tidak akan benar-benar hilang dari kehidupan kita, melainkan berganti wujud menjadi masalah yang baru. Dari yang bisa diambil sebagai hikmah pelajaran, mungkin saja Itu terjadi karena akan selalu ada proses demi proses yang baru setelahnya. Sebuah jalan setapak, yang mesti kita lewati dengan tekad yang keras secara terus-menerus tanpa henti Belum lagi, ada bermacam bentuk halang rintang, yang harus selalu siap sedia kita hadapi di tengah perjalanan. Baik yang bisa diprediksi...

Kita Adalah

Kita bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Kita adalah diri kita sendiri dengan tulang-belulang, daging, organ tubuh, rambut, beserta ruh, pikiran, perasaan, harapan, ingatan, dan kenangan.

Alasan Berkomentar

Jadi menyebalkan itu mudah saja, mudah sekali. Ada isu sosial lalu lanjutkanlah dengan asal berkomentar tanpa kesadaran penuh. Lalu berbuat sesuka hati, tanpa pertimbangan, nah jadilah menyebalkan. Dan sebaliknya, jadi orang menyenangkan itu begitu susah. Sebab, mestilah berbuat lebih. Namun itu tak jadi masalah, toh jadi orang biasa pun sebenarnya tak ada yang salah sama sekali. Asalkan tak merugikan da n menyakiti orang, asalkan sudah berusaha berbuat baik setulus hati, sudah cukuplah rasanya. Tapi, baik bagi diri sendiri belum tentu baik juga bagi orang lain. Dan ya, maka dari itulah perlunya menjadi peka pada orang lain. Lagi pula bagaimanapun yang terjadi, setiap orang memang akan selalu punya alasan untuk berkomentar. . #pengingatdiri

Terima Kasih 2019

2019 menjadi serangkaian pelajaran bermakna untuk saya. Tentang kedisiplinan yang belum benar-benar saya lakukan dengan baik, tentang penundaan akan banyak hal, tentang semangat belajar yang turun naik, tentang kemalasan-kemalasan yang teramat parah, tentang konsistensi dan integritas dalam proses berkarya yang perlu ditingkatkan, tentang bersabar dan kerendahan hati untuk terus berjuang melangka h maju, tentang kebangkitan dan ketegaran setelah mengalami kejatuhan, tentang berjejaring dan bersinergi dengan beragam manusia untuk tumbuh bersama, tentang memperbaiki sifat-sifat buruk yang bercela, tentang keharusan menabung yang juga butuh pengorbanan, dan tentu saja masih ada banyak hal lainnya yang harusnya bisa jadi lebih menarik jika dilaksanakan dengan baik. Sebab dunia ini terlalu hampa untuk diri saya sendiri tanpa menjadi bermanfaat bagi sesama dan bagi dunia. Terima kasih dunia, terima kasih kehidupan, terima kasih Tuhan. . Jambi, 22 Desember 2019 #pengingatdiri ...

Tautan Perasaan

Perpisahan, kepedihan, dan kenangan, seutuhnya bukan hanya milik manusia antara manusia saja. Tak luput dari itu, sebagiannya manusia dan sekian dari mahluk hidup lain di semesta ini, juga terikat emosi perasaannya. Tak percaya? Perhatikan dan amati sekitar kita serta dunia ini. Mungkin setidaknya ada satu kisah kedekatan hubungan manusia dan mahluk hidup lainnya yang begitu terjalin dengan erat, seperti ada ikatan batin di antara mereka. Baik itu manusia dengan hewan, tumbuhan, benda mati, atau mungkin sesuatu yang bersifat non-mahluk hidup namun terasa seolah-olah hidup. Entahlah, apapun bentuk dan wujudnya, hal-hal seperti itu memang nyata adanya dan seringkali terjadi di sekitar lingkungan kita. Dan dari kedekatan satu sama lain itu pula, kita bisa meyakini bahwa perasaan mahluk hidup itu sungguh sesuatu yang misterius, sulit diterka, dan penuh dengan teka-teki. . Kolase: "Nelangsa" Jambi, 2019

Salah Kaprah Menerka

Dalam upaya untuk berkembang, maju, dan jadi lebih baik, sudah pasti ada banyak cara yang kita coba. Dan dalam perjalanan itu kesalahan, kehilafan, dan apapun jenisnya tentunya tak terhindari, sebab semua itu adalah bagian dari proses. Lalu di antara sekian banyak jalan yang ditempuh, tak jarang ada pula yang mencari asal muasal perkara masalah bukan karena untuk memperbaiki keadaan. Yang terjadi malah sebaliknya, ada itikad mencari kambing hitam, untuk dijadikan bahan celaan, bahan pergunjingan, dan lain sebagainya. Ini bukan tanpa alasan, hal pertama yang bisa menandai hal tersebut bisa dilihat dari kritik yang ditujukan bukan pada sesuatu / hal /kesalahan yang terjadi, namun pada karakter personal seseorang. Yang mana dalam ilmu logika dan filsafat ilmu ini disebut Logical Fallacy, yakni cara berpikir yang salah/sesat. Dan dari cara bepikir yang salah tersebut akan menimbulkan reaksi yang salah dalam merespon. Sehingga apabila seseorang menyatakan suatu pendapat dengan menggunak...

Harapan Akhir Tahun

Menjelang tahun berganti kedepan, ketika hampir semua orang berpacu pada waktu, meramu rencana untuk maju, dalam sebentuk rangkaian resolusi tahunan. Aku hanya berharap bahwa kelak aku diberikan banyak kekuatan untuk bertahan dari segala tantangan zaman, dari kerasnya kehidupan, dari pertanyaan-pertanyaan takdir yang memburu, pertanyaan yang itu-itu saja, yang semestinya bisa ditanyakan pada Tuhan saja, sebab bagaimanapun hanya Dia yang mengetahui jawaban-jawaban pasti atas semua itu.  #pengingatdiri

Berkaca Pada Nurani

Pada beberapa hal saya menjadi semakin sadar, bahwa jangan hanya ingin memaklumi diri sendiri, pahami juga sisi orang lain. Lalu sebaliknya, jangan cuma melihat cela noda orang lain, belajar juga untuk tahu diri. Tempat berkaca bukan cermin saja, nurani juga.  #pengingatdi

Jawabnya ada di Ujung Langit

Sebenarnya, mengapa orang butuh motivasi? Kenapa hampir setiap orang selalu punya semacam penyemangat yang bisa membangkitkan tekad dalam diri? Ya, dalam hal apapun dan untuk tujuan apapun, hampir dari kita semua merumuskan beragam cara untuk sesuatu yang kita perjuangkan masing-masing. Bentuknya pasti ada banyak dan bermacam-macam pula. Tak jarang malah ada sebagian dari kita yang menggagas terobosan ide baru demi menyalakan api dalam jiwa. Demi menjaga agar kita tetap pada setapak jalan yang kita titi ke depan. Karena ketika api itu mulai redup atau mungkin padam, sudah jelas saat-saat seperti itu lah kita sangat membutuhkannya sebagai pendorong. Bahkan tak jarang, ketika sedang menyala pun rasanya kita akan tetap berusaha menjaga api itu berkobar, atau membuatnya mencapai lebih dari apa yang bisa dilakukan. Karena jujur saja, dari hati terdalam bukankah banyak kita yang memang selalu ingin lebih, lebih, dan lebih? Tentu itu adalah sesuatu yang bebas kita lakukan sendiri, tak ada...

Apakah Kita Sedang Berlomba?

Kadangkala di dalam perenungan kecil, saya bertanya-tanya sendiri. Apakah kita ini sedang saling berlomba satu sama lain? Berlomba jadi yang paling pintar, berlomba jadi yang paling kaya, berlomba jadi yang paling  keren , berlomba jadi yang paling  hebat , berlomba jadi yang paling tinggi, berlomba jadi yang paling baik. Tapi sepertinya kita sedang berlomba jadi yang paling benar di antara semuanya. Dan lebih dari itu, sadar ataupun tanpa kita sadari, hal-hal tesebut masih akan terus berlanjut dari waktu ke waktu, selama peradaban kita ini masih berlangsung.

Tentukan Sendiri Pilihanmu

Rutinitas orang-orang setiap harinya mungkin berbeda-beda, atau sudah pasti berbeda-beda. Masing-masing dari kita biasanya punya cara tersendiri juga dalam mengelolanya, apapun kegiatannya, apapun caranya.  Mulai dari hal-hal yang kita suka ataupun juga yang tidak kita, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Ingin berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Lalu melanjutkan apapun yang bisa dilakukan dengan semangat yang tersisa meski sedikit namun tetap memegang harapan untuk maju dan bertumbuh. Atau memilih untuk mengutuki nasib yang dirasa tak nyaman untuk diterima, hingga kemudian berakhir meratapi semua yang terjadi dengan gelap mata penuh sesal juga kecewa. Tapi, di dunia ini ada banyak hal yang juga bekerja dengan caranya sendiri. Ada beragam hal juga yang jelas-jelas tak bisa diterka prosesnya. Sebab tak ada satupun manusia yang bisa mengetahui dengan pasti rentang dan jalan hidup kedepannya. Bukankah hidup itu memang sebuah misteri. Semua kep...

Batas Ketidaktahuan

Perasaan sibuk membekali diri Dengan nyali demi menjemput bulan Namun bulan luput dari jangkau tangan Hanya bayangnya dtinggalkan Sisi kelamnya terpisah dari cangkang Terpecah-belah dengan bentuk rusak parah Paling hancur sehancur-hancurnya sudah Tiada lagi tersisa untuk dikenang rasa Air mata bersimbah tak cukup jadi sesal Apalagi untuk sekadar berduka Walaupun sedikit sisa kecewa Dibagikan pun terlambat juga Kenyataannya jadi hilang guna Sama seperti seperangkat pertanyaan Yang berhamburan di kepalamu Hendak merangkak keluar untuk tumbuh Lalu hidup dengan tujuan Akan menemukan jawabannya sendiri Sampai saatnya tiba Apalah daya Tersadar semua nihil semata Begitupun logika dari realita kita Sama-sama menyimpan rahasia dunia Sungguh menakjubkan batas ketidaktahuan Jambi, 21 April 2018

Jeda

Pagi masih teramat jauh Sebelum mata melewati tidur Benamkanlah ia segera Sebelum suara riuh bising berdenging Sebelum dunia terasa berguncang Sebelum tubuh ringkih meriang Sebelum sanubari rasa pecah memecah Terlelaplah menuju sinaran terang Hidupi mimpi walau sesaat waktu berlalu Pejamkan ego di antara hasrat nurani Bangkitlah nanti sebagai kesatria diri Beri jeda sementara Jambi, 20 April 2018

Merasa Keren ya?

Dua hari lalu, yakni hari Senin itu. Kebetulan aku sedang libur kerja, dan biasanya saat seperti itu, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan entah ke manapun hati dan pikiran ingin menuju. Dan kemudian saat sedang di jalan, atau anggaplah di pasar yang ramai sekali manusia dan kendaraan lalu-lalang. Tak lama, di sela waktu saat aku sedang menegak minuman dingin yang terbuat dari air saripati tebu, atau sederhananya sebut saja es tebu, di atas trotoar jalanan. Aku dibuat takjub dan salut melihat seorang lelaki dewasa, masih terbilang bapak-bapak muda, usia 30an yang berjalan kaki, hampir--hampir ala slow-motion mengibas sisi pinggir jalanan pasar, dengan pedenya memakai kaos putih dengan sablon khas #2019gantipresiden. Saat itu aku itu juga, sebenarnya aku ingin sekali ketawa ngakak so hard, tapi aku urungkan segera. Karena bukannya apa-apa, soalnya aku memang masih sedang dalam keadaan menegak es tebu. Aku bukan ingin tertawa soal topik #2019gantipresiden-nya...

Kenapa Manusia Tersinggung?

Karena ia membiarkan diri dan hatinya lemah diperdaya pikiran. Padahal tentu saja hati adalah yang paling tangguh dalam menjalani segala ujian dan kondisi perasaan. Tetapi tunggu sebentar, ada yang terlupa olehku. Ciri dan karakter manusia berbeda-beda antara satu dan lainnya. Sudah barang tentu juga bila hati yang menjadi inti jiwanya juga berbeda. Ada seorang yang s ebenarnya peka dan perasa namun tampak dengan jiwa tangguh. Ada yang sebaliknya, tampak peka dan perasa tapi tapi sebenarnya acuh dan abai. Tentu masih banyak lagi kombinasi emosional diri manusia yang lainnya. Tak terhitung karena keunikannya yang benar-benar di luar nalar dan perkiraan manusia, yang pasti di luar kendali manusia untuk mengetahui semuanya. Tapi sungguh hebat dan uniknya justru di situ, prasangka manusia yang satu dan lainnya yang tak sama bisa dan sering menyebabkan salah paham. Kenapa terjadi salah paham? Kembali lagi, karena memang hati sebagai rumah dari perasaan itu berbeda...

Kesepian Kita

Kepada benda mati yang menyala Aku menatapnya lama Menanti kabar Menunggu sadar Bahwa dunia Rupanya masih sedang berputar Maka, dalam hening diam aku percaya Kesendirian adalah teman setia Kesepian ada di antara kita Kesepian kita Jambi, 2 Mei 2018

Sayap Harapan

Rindu-rindu hadir Di jiwa-jiwa yang berlendir Berasal dari sayap-sayap harapan Yang hinggap dari terbang berhari Mustahil terbang lagi Apakah gerangan sebab-musababnya? Pertanyaan mulai beringas menganga Meminta untuk diberi jawaban pasti Menagih atas kebenaran sahih Berupa alasan Berupa kepuasan Berupa kebaikan Berupa kedamaian Berupa keselarasan Berupa kemuliaan Berupa kebijaksanaan Berupa kesempurnaan Uraian tak akan putus sampai di situ Tanda tanya belum selesai berhenti Titik tiada sempat mengakhiri Saat pertanyaan kembali menyala Cerita terus berlanjut Sampai kemudian lalu bersambung Jambi, 20 April 2018

Takut Pada Prasangka

Ternyata setelah aku pikir-pikir, karena terlalu sering membaca buku self-improvement alias buku pengembangan diri. Jika aku perhatikan lagi, seringkali setiap aku menulis entah di blog, di medsos, atau di aplikasi chat, entah kenapa setiap ada sesi beropini, aku merasa sepertinya aku terdengar sok macam seorang motivator kepada orang lain. Dan aku tak tahu, apakah ini bai k atau tidak? Aku pikir, mudah-mudahan saja baik. Tapi sungguh aku sangat khawatir sekali atas ketakutan yang berasal dari prasangka buruk. Sebab hal semacam itu pasa titik tertentu memang cukup bisa menggangu pikiran dan perasaan. Rasa itu bisa saja membuatku jadi merasa besar kepala atau mungkin malah aku sudah lebih dulu terlihat besar kepala bagi orang lain, yang sejujurnya hal seperti itu sangat tidak aku dambakan sama sekali. Aku harap itu tidak terjadi, dan mudah-mudahan juga orang tidak beranggapan begitu kepadaku. (Lah, memangnya kau ini siapa ajir? Keluarga bukan, kerabat bukan, pacar bu...