Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jurnal

Ada Ada Saja Kehidupan Ini

Hari ini saya memulai pagi dengan berangkat ke rumah sakit untuk mengambil antrian terapi mamak saya, yang memang rutin satu dua kali setiap minggunya.  Hari ini saya  agak telat jadi lah dapat nomer antrian 15. Alhamdulillah tapi tidak apa-apa, tidak terlalu jauh. Lagipula nomernya seringlah tidak dipanggil berdasarkan nomer antri, melainkan kehadiran saat proses pendaftaran administrasi. Tapi itupun nampaknya saya telat juga. Seperti biasa di sela waktu menunggu, saya sedikit membagikan makanan kucing ke dua ekor kucing yang sering berada di area parkiran ambulan.  Yang satu kucing jantan dewasa warna putih corak hitam, dan satu lagi kucing remaja betina warna putih dengan sedikit corak  hitam keabu-abuan di ekornya. Saya sedikit kepikiran sampai saat ini saya belum memberikan nama untuk dua ekor teman kucing saya itu. Mungkin akan saya pulihkan nama segera. Tapi dipikir pikir apakah itu penting? Entahlah, kita lihat nanti saja. Selain itu, tak lama setelah memberi...

Gulungan Kertas Kuning

Beberapa waktu lalu saya menemukan gulungan kertas kecil berwarna kuning, dari dalam saku belakang celana panjang saya yang baru kering dari jemuran. Dengan perlahan saya buka agar kertasnya tidak robek, lalu saya menemukan tulisan tangan saya yang khas, yang tidak cukup buruk namun tidak juga bisa dibilang bagus. Atau mungkin lebih tepatnya berkarakter sepertinya, entahlah. Kertas berwarna kuni ng itu tampak bertuliskan "Bagaimanpun yang ingin dikatakan, harus disampaikan!" Saya tak bisa mengingat pasti untuk apa dan bagaimana gulungan kertas tersebut sampai ada di dalam saku celana saya. Yang bisa saya tebak, mungkin saat itu saya mendapatkan ide tentang sesuatu namun baru terpikir serangkai kalimat pendek itu saja. Maka sudah pasti saya harus mencatatnya segera saja agar tidak lupa, dan bisa menggunakannya di lain waktu sebagai bagian dari ide untuk menulis. Mungkin itu puisi, atau apapun yang bisa saya tuliskan. Kita lihat saja.

Nulis Itu Dipraktekin

Bila tak salah ingat, buku "Nulis Itu Dipraktekin" ini sudah saya baca 5x. Atau kalaupun itu salah, setidaknya saya sudah membacanya lebih dari 3x. Ah entahlah, yang pasti buku ini cukup menarik dan menyenangkan dibaca walaupun berulang-ulang. Sebab topik-topik bahasan yang dijelaskan di dalam isinya tidak lebih dari 2 halaman. Yang mana semuanya bisa dijelaskan dengan singkat dan padat, dan itu sungguh mengagumkan rasanya. Paling tidak, buku ini cukup membantu saya sebagai r eferensi dan motivasi belajar menulis. Tapi yang lebih penting lagi, saya sadar bahwa belajar nulis memang harus dipraktekin. Karena pada kenyataannya, sebuah tulisan tak akan jadi apa-apa dan tak akan bisa ke mana-mana, jika hanya di angan-angan saja, tanpa ada usaha, tanpa dimulai dari rangkaian kata-kata. Kuncinya ya tak ada yang lebih utama memang selain dipraktekkin.

Selesai Membaca Buku Questioning Everything

Meski benar saya suka membaca buku, entah kenapa saya justru mengalami penurunan minat baca. Sebenarnya saya berpendapat begitu karena mengamati cara dan kebiasaan saya membaca buku dari waktu ke waktu yang sekarang sepertinya jadi lambat dan lama sekali mencerna setiap isi buku yang saya baca. Contohnya buku Questioning Everything karya Tomi Wibisono dan Soni Triantoro ini yang mulai saya baca dari sekitar bulan April lalu dan menjelang pertengahan bulan November ini, barula h bisa saya selesaikan dengan tuntas membacanya. Sejujurnya ini agak sedikit memalukan saya pikir jika dijadikan sebuah pengakuan, karena rasanya terlalu banyak waktu berlalu untuk membaca buku yang sebenarnya ketebalan bukunya sedang-sedang saja. Jika dikatakan berat sejujurnya tidak juga, malah sebaliknya buku ini asik dibaca, ringan, santai, seru, dan menyenangkan pula. Saya curiga, jangan-jangan ini semua karena mata saya yang gampang lelah dengan tulisan yang agak kecil dari biasa...

Tentukan Sendiri Pilihanmu

Rutinitas orang-orang setiap harinya mungkin berbeda-beda, atau sudah pasti berbeda-beda. Masing-masing dari kita biasanya punya cara tersendiri juga dalam mengelolanya, apapun kegiatannya, apapun caranya.  Mulai dari hal-hal yang kita suka ataupun juga yang tidak kita, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Ingin berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Lalu melanjutkan apapun yang bisa dilakukan dengan semangat yang tersisa meski sedikit namun tetap memegang harapan untuk maju dan bertumbuh. Atau memilih untuk mengutuki nasib yang dirasa tak nyaman untuk diterima, hingga kemudian berakhir meratapi semua yang terjadi dengan gelap mata penuh sesal juga kecewa. Tapi, di dunia ini ada banyak hal yang juga bekerja dengan caranya sendiri. Ada beragam hal juga yang jelas-jelas tak bisa diterka prosesnya. Sebab tak ada satupun manusia yang bisa mengetahui dengan pasti rentang dan jalan hidup kedepannya. Bukankah hidup itu memang sebuah misteri. Semua kep...

Perihal Menunda

Tunda, menunda, ditunda, tertunda. Selain kebiasaan-kebiasaan buruk saya soal sering begadang, rajin ngemil, aktif bermalas-malasan, berpenampilan berantakan dan kucel, dll. Ternyata masih ada lagi kebiasaan buruk saya yang harus segera saya perbaiki nampaknya. Salah satunya yaknk, seringkali menunda-nunda segala sesuatu hal yang sudah saya rencanakan untuk dilakukan. Saya menyadari bahwa hal ini ternyata berpengaruh sekali dan saling terhubung pada hal-hal yang lainnya.  Sehingga secara langsung dan tidak langsung berpotensi membuat kekacauan dalam proses kerja atas sesuatu yang seharusnya bisa berjalan dengan baik dan lancar. Itu pun hanya bisa terjadi jikalau saya tidak melakukannya, melanjutkanya, menerusaknnya, dan membiasakannya. Karena tentu saja, penundaan demi penundaan itu lambat ataupun cepat akan memicu kemalasan yang beruntun dan tak berkesudahan.

Harus Berubah

Pagar Rumah Bang Ian Saya sadar bahwa kebiasaan yang saya lakukan sehari-hari banyak yang buruk. Mulai  dari sering begadang, ngemil, malas, berantakan, dan kucel. Seharusnya seiring waktu berjalan saya sudah bisa mengurangi ini semua. Sebab saya sudah pernah berniat untuk jadi orang yang lebih baik kedepannya sejak lama, dan itu termasuk juga dengan memperbaiki kualitas dan cara saya menjalani kehidupan. Dan sudah seharusnya hal ini bisa segera saya lakukan dengan baik. Saya ingin sekali memperbaikinya, saya ingin berubah, mudah-mudahan bisa segera saya lakukan sedikit demi sedikit.

Pengen Bikin Jasa Desain

Dramatic Sejak beberapa bulan ini sebenarnya saya memiliki keinginan untuk membuka jasa desain secara online di Instagram. Mulai dari desain CV, desain logo, dan desain kemasan produk. Rencananya saya ingin sebisa mungkin hal ini tidak sampai diketahui oleh bang Ian, bos saya itu. Harusnya hal ini sudah bisa saya mulai segera namun entah kenapa saya masih ragu karena peralatan yang seadanya dan skill yang seadanya.. Memang skill dan pengetahuan saya masih terbatas sebenarnya, tapi jika melihat keadaan dan situasi banyak orang yang sepertinya secara tingkatan skill dan pengetahuan berada di bawah saya cukup percaya diri melakukan hal yang sama. Dan karena itu lah saya merasa bahwa saya juga harus bisa.

Jurnal Mimpi: Terdampar di Rumah Kecil

Gastiasih Aku memimpikan masa di mana aku tiba-tiba berada di sebuah rumah kecil. Terlihat ada seorang perempuan di sana, aku cukup ragu apakah perempuan ini istri orang lain ataukah masih gadis. Tapi entah kenapa aku memanggilnya kakak, seolah dia lebih tua dariku. Atau mungkin bisa jadi karena aku hanya bersikap sopan? Entahlah aku tak tahu pasti, itu hanya berlalu begitu saja. Namun yang pasti perempuan ini adalah sosok perempuan yang cantik dan menawan. Saat itu sepertinya aku sedang numpang kencing, atau numpang minum, atau numpang berteduh, atau numpang menginap, atau numpang apa lah. Aku juga lupa, aku tak tak bisa mengingat dengan baik lagi tentang hal itu dan cerita selanjutnya.

Kemungkinan Baru

Hampir semingguan ini atau mungkin lebih. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Seperti halnya orang -orang yang seringkali berbicara pada batinnya, nuraninya, benaknya, pikirannya, atau apapun itu sebutannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Mungkin yang kita rasakan hanya berbeda-beda tema saja saat itu terjadi. Aku memikirkan sesuatu tentang satu pertanyaan yang aneh, atau mungkin biasa saja, entahlah. Pertanyaannya begini. Dapatkah aku menulis puisi berdasarkan sosok manusia dari banyak karakter yang aku tonton, dalam sebuah tayang serial televisi yang aku sukai? Aku rasa jawabannya bisa aku cari tahu sendiri. Mulai bergerak membuktikannya sendiri. Aku harus mencoba melakukannya sendiri. Membuat segala terkaan-terkaan yang terprediksi dan yang tersusun secara asal begitu saja dalam kepalaku menjadi nyata. Menjadi mungkin untuk kemungkinan yang baru.

Hidup Harus Berlanjut

Hobiku itu sejak zaman dulu sebenarnya ada banyak sekali. Seiring waktu saling silih berganti dan terus berganti. Hanya saja. Entah mengapa ya, tak pernah ada momentum di mana aku bisa benar-benar membawa diriku, bisa berjaya dan hidup damai dengan zona nyaman yang tercipta. Apa mungkin karena aku selalu susah untuk bisa bertahan dan fokus ya? Mungkin begitu. Misalnya saja, mulai dari olahraga tenis meja, bermain musik, belajar mendalami desain, membikin kerajinan tangan, tulis-menulis, coba-coba memproduksi podcast, sampai menggiati kesenian seperti sekarang. Lalu aku pikir, sepertinya perjuanganku masih akan panjang sekali. Dan untuk itu, tentu saja aku belum bisa berhenti di sini. Atau lebih tepatnya belum waktunya aku berhenti. Barangkali begitu. Ya namanya juga hidup. Bagaimanapun itu. Semuanya harus tetap berlanjut.

Shigeo

"Hal terberat dari memiliki adalah kehilangan" Itu adalah sejuntai kalimat yang mengawang-awang di pikiran saya untuk menjawab sebuah komentar di postingan foto Instagram saya, yang sedikit berkisah tentang berpulangnya ikan cupang peliharaan saya, Shigeo. Sebuah nama Jepang yang merupakan nama dari nama karakter utama Anime berjudul Mob Psycho 100. Saya agak sedikit merasa bersalah atas matinya Shigeo. Saya terpikir kalau-kalau hal terjadi itu karen saya lupa mengganti airnya yang mana dari wadah drum air sumur yang tercemar polusi udara sebab limbah asap kebakaran yang kembali melanda Jambi semenjak satu bulan terakhir ini. Tapi apa mau dikata, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Bagaimanapun tak akan mengembalikan Shigeo jadi hidup lagi. Yang bisa diambil adalah pelajaran dibaliknya. Bahwa ketika hendak memelihara binatang apapun, haruslah ekstra perhatian benar jika tak ingin ada nyawa binatang yang mati sia-sia. Ya sudahlah. Toh kehidupan i...

Tahukah Kau?

Tahukah kau, aku masih sering menyambangi blogmu, membaca tulisan-tulisanmu, dari satu judul ke judul yang lainnya. Sering yang aku maksud sebenarnya, tak juga setiap hari. Namun lebih ke sesekali waktu, sesempat mungkin yang aku mampu. Membaca lagi tentangmu. Dari banyak tulisanmu yang aku baca, sepertinya tak ada satupun sesuatu tersirat tentangku. Ya mungkin memang tak ada yang berkesan mendalam dariku untukmu, aku tahu dan aku sadar benar akan hal itu. Sebab itu sudah biasa terjadi dari sejumlah pengalaman-pengalamanku di masa lalu. Sebab siapalah aku ini? Hanya seseorang yang terlalu sering berharap lebih, untuk banyak hal yang tak juga kunjung pasti. Apakah pernah terbesit olehmu untuk sesekali waktu pula mengunjungi blogku dan membaca tulisan-tulisanku yang remeh ini? Ah tidak penting juga sepertinya bagimu kan? Ya sudahlah, aku beralih dulu ke hal-hal lainnya. Daripada aku terus-terusan meracau di sini, mengasihani diriku sendiri, seperti ta...

Merasa Keren ya?

Dua hari lalu, yakni hari Senin itu. Kebetulan aku sedang libur kerja, dan biasanya saat seperti itu, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan entah ke manapun hati dan pikiran ingin menuju. Dan kemudian saat sedang di jalan, atau anggaplah di pasar yang ramai sekali manusia dan kendaraan lalu-lalang. Tak lama, di sela waktu saat aku sedang menegak minuman dingin yang terbuat dari air saripati tebu, atau sederhananya sebut saja es tebu, di atas trotoar jalanan. Aku dibuat takjub dan salut melihat seorang lelaki dewasa, masih terbilang bapak-bapak muda, usia 30an yang berjalan kaki, hampir--hampir ala slow-motion mengibas sisi pinggir jalanan pasar, dengan pedenya memakai kaos putih dengan sablon khas #2019gantipresiden. Saat itu aku itu juga, sebenarnya aku ingin sekali ketawa ngakak so hard, tapi aku urungkan segera. Karena bukannya apa-apa, soalnya aku memang masih sedang dalam keadaan menegak es tebu. Aku bukan ingin tertawa soal topik #2019gantipresiden-nya...

Kenapa Manusia Tersinggung?

Karena ia membiarkan diri dan hatinya lemah diperdaya pikiran. Padahal tentu saja hati adalah yang paling tangguh dalam menjalani segala ujian dan kondisi perasaan. Tetapi tunggu sebentar, ada yang terlupa olehku. Ciri dan karakter manusia berbeda-beda antara satu dan lainnya. Sudah barang tentu juga bila hati yang menjadi inti jiwanya juga berbeda. Ada seorang yang s ebenarnya peka dan perasa namun tampak dengan jiwa tangguh. Ada yang sebaliknya, tampak peka dan perasa tapi tapi sebenarnya acuh dan abai. Tentu masih banyak lagi kombinasi emosional diri manusia yang lainnya. Tak terhitung karena keunikannya yang benar-benar di luar nalar dan perkiraan manusia, yang pasti di luar kendali manusia untuk mengetahui semuanya. Tapi sungguh hebat dan uniknya justru di situ, prasangka manusia yang satu dan lainnya yang tak sama bisa dan sering menyebabkan salah paham. Kenapa terjadi salah paham? Kembali lagi, karena memang hati sebagai rumah dari perasaan itu berbeda...

Selamat Hari Buku Sedunia

Aku tidak benar-benar Ingat, entah sejak kapan aku suka membaca. Baik itu membaca buku atau membaca apapun. Aha, sepertinya dari yang bisa aku gapai dalam kenanganku terdahulu sekali, bahwa aku mulai menyenangi kegiatan baca-membaca sejak bermain dan belajar mengeja saat di Taman Kanak-kanak alias TK dan saat Sekolah Dasar alias SD ketika belajar membaca sekumpulan huruf yang tersusun berpatah-pa tah di buku Bahasa Indonesia berseri edisi duet Budi dan Ani. Saat itu, hampir semua yang kebetulan aku perhatikan di depan mata, jika tertera tulisan di situ, pasti akan aku coba baca. Bahkan kebiasaan ini berlangsung sampai SMP. Ya, setiap kali melihat sesuatu yang terdapat bacaan, biasanya pikiran ini akan mengambil alih konsentrasi untuk segera menuntaskan bacaan tersebut, mulai dari plang/merk toko, koran, majalah, buletin, brosur, buku, booklet resep masakan, kemasan makanan dan minuman, juga kemasan produk apapun, spanduk, mobil brand, billboard, running text di tv,...

Takut Pada Prasangka

Ternyata setelah aku pikir-pikir, karena terlalu sering membaca buku self-improvement alias buku pengembangan diri. Jika aku perhatikan lagi, seringkali setiap aku menulis entah di blog, di medsos, atau di aplikasi chat, entah kenapa setiap ada sesi beropini, aku merasa sepertinya aku terdengar sok macam seorang motivator kepada orang lain. Dan aku tak tahu, apakah ini bai k atau tidak? Aku pikir, mudah-mudahan saja baik. Tapi sungguh aku sangat khawatir sekali atas ketakutan yang berasal dari prasangka buruk. Sebab hal semacam itu pasa titik tertentu memang cukup bisa menggangu pikiran dan perasaan. Rasa itu bisa saja membuatku jadi merasa besar kepala atau mungkin malah aku sudah lebih dulu terlihat besar kepala bagi orang lain, yang sejujurnya hal seperti itu sangat tidak aku dambakan sama sekali. Aku harap itu tidak terjadi, dan mudah-mudahan juga orang tidak beranggapan begitu kepadaku. (Lah, memangnya kau ini siapa ajir? Keluarga bukan, kerabat bukan, pacar bu...

Kenapa Menunda?

Dari yang bisa aku pelajari tentang kenapa sesuatu tidak bisa dilakukan dengan sempurna, bagus, atau minimal baik tanpa ada kesalahan yang terlalu berarti. Hal mendasar dan paling sering menjadi alasan penghambat langkah dalam mewujudkan dan melakukan sesuatu adalah menunda. Menunda ini tentu adalah akibat dari beberapa sebab. Misalnya saja, karena merasa memiliki banyak waktu , ya dalam pikiran ini serasa membuat sebuah pemakluman bahwa "tenang saja karena waktu masih panjang". Padahal nyatanya tidak begitu, waktu selalu terbatas dan mustahil abadi. Itu sebabnya selalu ada istilah deadline di dunia ini. Lalu selain itu, karena menganggap remeh suatu hal, menganggap mudah apa yang sedang dihadapi, entah tugas, pekerjaan, atau apapun itu. Dengan tidak sadar, kesombongan ego diri membutakan mata hati. Jelas sekali bahwa kecerobohan dan kelalaian sering terjadi sebagai dampak dari terlalu menganggap remeh suatu perkara. Dan yang paling pamungkas kenapa se...

Nasehat Untuk Diri Sendiri

Austin Kleon bilang, segala saran dan nasihat yang kita berikan, pada dasarnya selalu ditujukan untuk diri sendiri. Jadi ketika kapan dan di manapun kita sedang menyampaikan sebentuk nasihat, saran, motivasi, pembelajaran, khotbah, atau apapun itu jenis dan sebutannya. Secara sadar dan tidak sadar kita sedang berbicara dan menyampaikannya pada diri sendiri. Ya, saat itu sedang terjadi pencerminan atas segala tindak-tanduk dan sikap kita pada sisi diri kita yang lain. Setidaknya, begitu informasi yang aku baca beberapa waktu lalu.

Aku Akan Terus Menulis

Beberapa waktu lalu, bahkan sekarang ini, seringkali aku terpikir untuk sesering mungkin menulis yang panjang. Entah itu opini, cerita orang lain, cerita fiksi yang masih terseok-seok aku pelajari, atau menulis hal personal seperti dulu. Ya rasanya sudah cukup lama aku tak menulis berbagai ketidakpentingan yang aku anggap penting itu. Namun kadangkala, aku seperti merasakan ketidakberdayaan yang sebenarnya bisa saja tepis itu. Aku beranggapan bahwa untuk apa aku asik menulis berpanjang-panjang ria jika tak ada yang sudih merelakan sekejap waktu membaca tulisanku selain aku seorang. Ini sebenarnya sungguh terasa lucu dan menggelikan bagiku. Kenapa racun pesimistis itu justru datang saat ini? Ketika aku sedang berusaha menggiati dan memperjuangkanya sebaik mungkin. Kenapa tidak dari dulu saja? Tapi setelah aku pikir lagi, mungkin aku kurang serius, kurang rajin, kurang fokus, kurang belajar, kurang berjuang, kurang bersemangat lebih saja. Dari yang aku sadari, mun...