Menuliskan namamu dalam puisi Kuharap akan jadi peneduh Yang berhasil melupakan betapa terik siang hari menyengat kulit. Suasana redup bawah pohon rindang Berlindung menghindari bias cahaya Jangankan manusia, katamu Bayangan saja enggan berpanasan berlama-lama. Bukan oleh sebab takut pada matahari Melainkan karena ia rindu ingin memudar Hendak beralih kebentuk rupa lain Yang lebih elok dipandang mata Untuk kemudian segera menghilang Dihapus takdir zaman bernama waktu. Janji semanis madu Kau kembali mengulangnya lagi Harapan di tangan menguap ke udara Bergandengan pada ingatan Sirna dalam kenangan.