Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label menulis sastra

Sirna Dalam Kenangan

Menuliskan namamu dalam puisi Kuharap akan jadi peneduh Yang berhasil melupakan betapa terik siang hari menyengat kulit. Suasana redup bawah pohon rindang Berlindung menghindari bias cahaya Jangankan manusia, katamu Bayangan saja enggan berpanasan berlama-lama. Bukan oleh sebab takut pada matahari Melainkan karena ia rindu ingin memudar Hendak beralih kebentuk rupa lain Yang lebih elok dipandang mata Untuk kemudian segera menghilang Dihapus takdir zaman bernama waktu. Janji semanis madu Kau kembali mengulangnya lagi Harapan di tangan menguap ke udara Bergandengan pada ingatan Sirna dalam kenangan.

Hujjah Bahagia

Semua tahu Dunia ini berubah Sejak sedia dulu kala Segalanya tak lagi sama Roda nasib pecah berhamburan Cerita pun sama berganti Manusia hidup lalu mati Hitam ingin menjadi putih Putih mengharap serupa Sudah tak ada lagi beda Elegi dikumandangkan Persis gemuruh suara perasaan Berseteru mengumpat ingin kemulian Yang gagal diraih sebagai pijakan Bimbang langkah dalam pikiran Apalagi keluhan lainnya Pahala tak berdaya diperoleh Hanya mencicil dosa nyatanya Apapun tiada berguna akhirnya Suci dan hina sama menyebalkannya Sudahi saja riwayat luka Dengan do'a pemurni jiwa Agar hilang benci di dada Biar tumbuh cinta kasihnya Adalah hujjah berbahagia

Siasat Merekayasa Perasaan"

Yang selalu kau kejar bersakit-sakitan Sampai merah berdarah itu adalah luka Dan aku sudah khatam sekali caramu Kau pasti sengaja memperdaya kesadaranmu sendiri Nampak kentara sekali di matamu Pilunya kau nikmati hebat Serasa kau menyambung ingatan Melipat jarak antara waktu kepada rindu Kau menjalin kembali kenangan itu Kepingan masa lalumu Membongkar kumpulan rahasia lama tak terperi Berusaha menemukan celah untuk kau singgahi Barangkali menempatinya sekali lagi Seolah pikiranmu berkuasa Menentukan jalan cerita Yang sebenarnya terjadi adalah Kau membenarkan titik-titik prasangka Nuranimu terganggu bergejolak Kau melemparkan seringai itu Tersenyum bangga di wajahmu Dalam diam kau berkelakar Sungguh ini kesempatan berharga Untuk bertolak pada jejakmu dulu Lalu bunga di taman hatimu bermekaran Akhir kisah, siasatmu merekayasa kenyataan perasaan