Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bait

Ada Apa Dengan Mereka?

Fitnah tidak lagi lebih kejam Daripada pembunuhan Melainkan sehimpun pertanyaan menghardik itu Pertanyaan-pertanyaan yang sama Yang selalu ditanyakan orang-orang itu Padamu, padaku, pada kita Ada apa sebenarnya dengan mereka?

Batas Ketidaktahuan

Perasaan sibuk membekali diri Dengan nyali demi menjemput bulan Namun bulan luput dari jangkau tangan Hanya bayangnya dtinggalkan Sisi kelamnya terpisah dari cangkang Terpecah-belah dengan bentuk rusak parah Paling hancur sehancur-hancurnya sudah Tiada lagi tersisa untuk dikenang rasa Air mata bersimbah tak cukup jadi sesal Apalagi untuk sekadar berduka Walaupun sedikit sisa kecewa Dibagikan pun terlambat juga Kenyataannya jadi hilang guna Sama seperti seperangkat pertanyaan Yang berhamburan di kepalamu Hendak merangkak keluar untuk tumbuh Lalu hidup dengan tujuan Akan menemukan jawabannya sendiri Sampai saatnya tiba Apalah daya Tersadar semua nihil semata Begitupun logika dari realita kita Sama-sama menyimpan rahasia dunia Sungguh menakjubkan batas ketidaktahuan Jambi, 21 April 2018

Jeda

Pagi masih teramat jauh Sebelum mata melewati tidur Benamkanlah ia segera Sebelum suara riuh bising berdenging Sebelum dunia terasa berguncang Sebelum tubuh ringkih meriang Sebelum sanubari rasa pecah memecah Terlelaplah menuju sinaran terang Hidupi mimpi walau sesaat waktu berlalu Pejamkan ego di antara hasrat nurani Bangkitlah nanti sebagai kesatria diri Beri jeda sementara Jambi, 20 April 2018

Kesepian Kita

Kepada benda mati yang menyala Aku menatapnya lama Menanti kabar Menunggu sadar Bahwa dunia Rupanya masih sedang berputar Maka, dalam hening diam aku percaya Kesendirian adalah teman setia Kesepian ada di antara kita Kesepian kita Jambi, 2 Mei 2018

Menulis Puisi

Aku tidak menulis puisi Untuk membuat tuan dan puan terkesan Aku menulis puisi Untuk menyerukan pesan dari perasaan Kepada sesiapapun takdir bait bermuara Entah beroleh pujian cinta Atau hanya sumpah serapah Bagiku tiada masalah Baik buruk yang singgah Apapun sama saja Aku akan terus menulisnya Dibaca pun walau tak dibaca Aku akan terus melanjutkannya Menulis serangkaian aksara rasa Demi pesan-pesan itu Atas perasaan-perasaanku Puisi-puisiku Jambi, 30 April 2018

Ibu

Kebaikan terbit menyatakan terang Asa hidup melestarikan impian Abdi berbunga menumbuhkan bakti Kepadamu wahai semerbak terkasih Medan dari segala energi hati bermula Doamu, restu menuju jalan cahaya Harapanmu, pembuka pintu-pintu berkah Peluhmu, jerih payah tak berujung Nasihatmu, benih nilai bijak bestari Cintamu, melahirkan hakikat budi pekerti Teruntukmu malaikat Tuhan di dunia Jambi, 20 April 2019

Sayap Harapan

Rindu-rindu hadir Di jiwa-jiwa yang berlendir Berasal dari sayap-sayap harapan Yang hinggap dari terbang berhari Mustahil terbang lagi Apakah gerangan sebab-musababnya? Pertanyaan mulai beringas menganga Meminta untuk diberi jawaban pasti Menagih atas kebenaran sahih Berupa alasan Berupa kepuasan Berupa kebaikan Berupa kedamaian Berupa keselarasan Berupa kemuliaan Berupa kebijaksanaan Berupa kesempurnaan Uraian tak akan putus sampai di situ Tanda tanya belum selesai berhenti Titik tiada sempat mengakhiri Saat pertanyaan kembali menyala Cerita terus berlanjut Sampai kemudian lalu bersambung Jambi, 20 April 2018

Lekas Tidur

Pintamu dari dalam kelambu Ke marilah, cepat Ayo sini, ke sini Sapaan itu Semakin nyaring di udara Menuju telinga Keluhan panjang Terus terngiang Beruntun Berulang-ulang Bujuk rayunya Tak berhenti juga Aku heran seketika Bingung dibuatnya Tak habis pikir jadinya Bagaimana bisa Bantal di atas kasur Melambai, menggoda Mengajak tidur segera Celaka

Riwayat Kesunyian

Bukan deru bising jalanan mengganggu Melainkan kesunyian lamunan pemberianmu Dikoyak-koyaknya hening kedamaian Sehingga tumpah-ruah lah kemalangan Akar-akar dari jenuhmu tumbuh liar Yang serupa perdu semak belukar Kemudian melimpah di permukaan perasaan Dan mengalir arus ke muara angan Lalu kembali guyub memintal dalih Untuk tumbuh sebagai cinta kasih Jambi, 12 April 2018

Selesai Sudah

Di atap ketinggian langit menjulang Aku menatap hamparan semesta sekitar Jauh sejauh-jauhnya mata memandang Harapan hendak bersauh Di persimpangan jalan berkelok Tak jua lelah setapak langkah berhenti Panjang sepanjang-panjangnya lintasan meniti Hasrat ingin bersimpuh Perjalanan akan tiba sampainya Perjuangan di penghujung segera Akhirnya, selesailah sudah Jambi, 11 April 2018

Peristiwa Kenangan

Menemukanmu di antara pagi Kala resah dirundung keluh hati Buah dari gundahmu semalam Adalah tanda tanya besar di angan Rajukmu menyiratkan pesan Gelisah untuk pergiku yang akan jauh Kerelaan berat rasa dari pelukan Apalagi bila melepaskan genggaman Kau terpaut merenung sepanjang hari Enggan bicara pun walau sepatah kata Mungkin kau sengaja menyimpannya Agar diammu jadi alasan melempar sapa Di sela kemuramanmu kau titipkan rindu Surat-surat berisi riwayat lalu Kemelut jiwamu juga terasa hidup Berpacu seiring detik berkejaran Barangkali sejahteralah perasaan itu Sembari membingkai makna pertemuan Menyalakannya dari redup perpisahan Menceritakan ulang peristiwa kenangan . Jambi, 1 April 2018

Takdir Mahacinta

Aku ingin dikenang Seperti gubahan syair puisi Menjadi abadi Dari ide menginspirasi Hidup masyhur Dalam pikiran dan hati manusia Menyentuh akal juga rasa Sesiapa yang ikhlas menerima Aku ingin dicintai Dengan sederhana Sesederhana larik puisi Alam dan dunia Terpaut kekal Dalam ingatan manusia Melegenda pada jalan-jalan-Nya Sang takdir Mahacinta Ya aku ingin juga Jambi, 21 Maret 2018

Kecepatan Yang Terlalu Cepat

Jatuh dengan kecepatan 800km/jam, tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Ya sampai sekarang pun aku menaruh harapku yang tinggi dengan penuh kesungguhan pada tuhan, agar kenaasan celaka macam itu tidak akan datang menghampiri aku. "Jauhkan balak, Tuhan!" Kata orang Melayu. Jangan 800km/jam yang aku rasa cukup mustahil untuk orang-orang kebanyakan. Apalagi menemukann ya di jalan raya, kurasa tak akan ada yang mendapatinya. Jelas saja pekerjaan gila itu namanya. Kalaupun ada orang menggunakan kendaraan dengan kecepatan sehebat itu, mungkin dia tipikal atlet balap profesional tingkat dunia internasional. Itu jika kecepatannya meluncur ada di sirkuit balap yang mumpuni segala standard, spesifikasi, dan ketentuannya. Bagaimana jika dilakukan di jalan raya biasa? Aku pikir bodoh saja orang itu, ya pasti susah untuk bergerak cepat, presisi, dan lincah pastinya. Sudah tahu jalanan padat merayap seperti itu, ya keadaan ramai lancarpun tetap sama saja kan ...

Kekacauan Yang Menyentuh

Kita berkata hendak meruntuhkan sekat-batas yang ada. Namun nyatanya kita menciptakan lagi sekat-batas dalam bentuk yang baru. Kita terlupa sebab tipu daya dan bujuk rayu dunia. Yang mengalihkan mata, pikiran, serta seluruh jiwa raga pada hal-hal semu. Masing-masing kita saling bangga melempar amarah selalu. Kerap mencari siapa salah setiap waktu. Pongah menepuk dada ak an kebenaran semu. Abai dari kehadiran diri tanpa kesadaran penuh. Nyatanya kita lalai pada kehidupan diri sendiri yang sebenarnya juga tak pernah utuh. Namun tetap saja, keasikan mengurusi perkara orang lain seperti tiada kata jenuh. Sungguh ini adalah suatu kekacauan yang menyentuh. Jambi, 20 Maret 2018

Kepada Hakikatmu

Sudah saatnya berganti jiwa Yang lama telah usang Temukan lagi diri baru Untuk asa sejahteramu Demi kemenangan itu Lucuti kelammu Keburukan itu Singkap sesalmu Atas luka-luka itu Lupakan murkamu Oleh kemarahan itu Ganti yang baru Tekad-tekad itu Jalani kehidupanmu Bersama doa itu Bahagialah hatimu Dengan cinta itu Pulanglah segera Kepada hakikatmu Jambi, 20 Maret 2018

Selamat Datang di Mahligai Mimpi

Aku sedang merencanakan cara menggapai nyala tekad bak api abadi itu. Memilin satu per satu gundah gulana pengganggu sebagai bahan bakarnya. Mengubahnya jadi seribu satu alasan kenapa harus berdikari? Kita tidak sedang membicarakan hal-hal abstrak, apalagi sesuatu yang nihil.  Kalau kau bingung, dan masih dihantui resah gelisahmu, kau bebas berhenti.   Bukankah kau tidak terikat pada apapun sebenarnya saat ini. Bahkan pada norma yang selalu berusaha kau patuhi. Pun walau nyatanya kau hendak berpaling arah jalan untuk kesekian kalinya setiap menemui persimpangan, tentu saja tak ada yang salah dari itu. Bagaimanapun siasat, keputusan sepakatmu adalah sah dan benar dalam persepsimu. Aku percaya tak ada yang terlanjur basah. Setiap hal yang terjadi adalah tuntunan garis takdir. Semuanya memiliki riwayat yang beralasan. Meski mungkin dalam ketidaktahuan yang meraja. Camkan itu sebaik-baiknya, seingat-ingatnya. Kau cukup meyakini dengan penuh art...

Berhutang Menyembuhkanmu

Menurutku sama saja ceritanya Antara jatuh hatimu Juga ketika patah Bukankah sudah membekas Di tempat persis serupa Tandanya pun selaras merah Tak ada bedanya Namun lalu aku sadar dari lupa Kalau ada selisih di antaranya Jatuh hatimu merona Beraroma wewangian bunga Sedang patahmu kelam Berbau busuk suram Tapi kemudian saja Aku kembali menemukan ingatan Jatuh dan patahmu Semua oleh sebab karenaku Sepertinya aku berhutang menyembuhkanmu Jambi, 16 Maret 2018

Melupakan Tak Akan Mudah

Anganku terperanjat dibawa meluncur terbang Dilemparkannya hingga menabrak menembus awan Sensasi sekelebat berdesir kencang Sedang di lain ruang waktu ragaku jatuh Tertinggal jauh di atas permukaan tanah Berpijak pada keyakinan untuk tetap diam Itu tak sebanding dengan ingatan rasa lalu yang hilang Karena sungguh melupakan tak akan mudah Jambi, 13 Maret 2018

Mengapa Pertanyaan Ini Belum Terjawab Juga?

Aku melihat tanah retak di lantai bumi Pertanda apakah gerangan ini, Ya Tuhan? Aku tak berani menerka dari mana muara masalah Yang kutahu, reruntuhan gedung dan rumah-rumah Luluh lantak terserak sudah Aku mendengar isak tangis pecah di udara Menurutmu, ada apa ini, hai manusia? Kenapa kekacauan datang seketika? Mungkinkah ada do'a-do'a datang besertanya? Aku tak tahu kunci rahasianya Aku hanya ingin tahu Mengapa pertanyaan ini belum terjawab juga? Jambi, 11 Maret 2018

Rindu Adalah Peluru

Malammu adalah kelam Antara gelap gulita pada berkas cahaya Pintu-pintu ruanganmu menanti dibuka Dari resahnya berprasangka Dalam bebat simpul kecewa Bukan karena asmara Melainkan bujuk rayu fatamorgana Tipu daya dunia Siangmu adalah kemudahan Disingkap tabir kehidupan atas kilauan Bilik-bilik kamar menunggu ditempati Untuk hati yang terlanjur layu Berhenti menepis risaumu di ingatan Hanyutkan saja di aliran kenangan Kelak kau akan berlutut percaya Bahwa rindu adalah peluru Jambi, 6 Maret 2018