Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Diri

Berkacalah

Baru sadar diri, kalau selama ini, ketika terlibat percakapan dengan orang lain. Entah itu perempuan atau laki-laki, baik percakapan di daring ataupun luring. Seringkali secara sengaja dan tak tak sengaja, aku seolah paling tahu urusan juga persoalan masalah orang, serasa paling mengetahui jalan pikiran mereka, menganggap diri paling mengerti apa yang harus orang lakukan, berlagak paling paham atas apa yang dibutuhkan orang  dengan menyelipkan kritik, saran, tambahan, masukan, atau apapun istilahnya itu. Padahal mungkin sebenarnya sama sekali tidak dimintai pendapat. Mohon maafkan diri ini bila itu pernah terjadi sekali ataupun lebih. Karena lambat laun kita tahu bahwa, ada kalannya orang tak butuh itu semua, ada kalanya orang bosan dengan kritik, saran, tambahan, masukan, atau apapun istilahnya itu. Benar kan? Ada kalanya yang orang butuhkan hanya dukungan, semangat, juga doa tentunya. Untuk itu aku tak tahu apakah ini adalah sesuatu yang baik atau malah sebaliknya. Dan nampakn...

Begitulah Ego Diri

Rasanya dulu dan mungkin sampai sekarang aku sering sekali menceritakan sedikit dari banyak hal yang aku inginkan dalam hidup ini. Dan sebenarnya, jika ingin jujur sampai sekarang pun aku masih tetap menyimpan keinginan demi keinginan itu untuk bisa hidup sekali lagi, atau pun berkali-kali lagi. Tentu saja tak ada yang salah untuk itu, semua orang pun tahu dan sadar itu sesuatu yang lumrah, sangat manusia sekali. Semua adalah tentang mimpi yang terus menyala dalam relung hati dan jiwa ini. Tentang harapan yang berharap tumbuh menjulang tinggi. Tentang ambisi​-ambisi yang menggerogoti diri dan terpenjara abadi dalam rangka kepala yang membingkai otak kanan dan kiri. Mimpi, harapan, dan ambisi, sejatinya adalah bagian dari nafsu dan ego diri. Dan siapalah kita yang manusia ini? Ah hanyalah insan biasa, yang tiada daya dan upaya menolak segala sajian fatamorgana dunia penuh imajinasi. Seolah-olah kita semua adalah budak yang merasa dirinya calon raja tertinggi. Padahal benar saja...

Nasehat Seorang Pembenci

Kata kakek  "Selagi kau hidup, kau boleh dan bebas melakukan apapun yang kau mau, nak. Apapun itu, termasuk jika kau ingin jadi pembenci. Ya tentu itu semua berdasarkan pilihan dan tanggung jawabmu sendiri. Tapi tolong ingat satu hal pesanku ini, nak. Setidaknya kau tidak jadi pembenci yang dibayar. Jangan jadi budak pembenci yang hanya tahu ikut arus membenci. Tanpa tahu apa yang dibenci, terlebih lagi tak tahu apa tujuan dari membenci itu. Kau harus tahu jelas apa yang kau lakukan dan tahu pasti apa konsekuensinya. Jangan nanti di penghujung jalan, lalu kau menangis darah, tak ada arti lagi semua itu, hanyalah sia-sia belaka. Maka sekali lagi aku ingatkan kau, nak. Jika kau ingin jadi pembenci, jadilah pembenci sejati"

Ocehan Sendiri

Sesekali atau mungkin sering kali aku bisa saja tiba-tiba terpikir, ingin mencari dan mengumpulkan banyak sekali teman. Mungkin karena dalam dimensi dunia yang nyata ini, sedikit sekali teman yang aku miliki. Ada tapi tak banyak. Tak banyak karena memang tak mudah aku temukan. Pun dalam suasana yang tampak akrab, sial memang. Aku bukan orang yang pandai bergaul atau sebutlah menjalin pertemanan. Bukan karena sombong, bukan pula karena pilah-pilih. Pilah-pilih mungkin terjadi, tapi tidak merasa berada pada status sosial dan ekonomi yang berbeda level, ah aku tidak sepicik itu. Aku tidak mengkategorikan diri bahwa aku adalah bagian dari orang-orang introvert, meski mungkin hal itu tak pula bisa aku tolak. Karena jujur saja, sebenarnya aku berharap bisa dengan mudahnya berkenalan dengan orang lain, melebur akrab dalam rasa, emosi, dan kesamaan visi. Tapi kenyataannya semua tidak selalu seperti apa yang diharapkan. Alah, ocehan apa pula ini.