Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Renungan Diri

Lakukan Segera

Tanpa bermaksud menyinggung orang lain, entah kenapa menjadi malas itu rasanya begitu menggoda dan menghanyutkan. Sekali dua kali melakukannya, maka bersiaplah untuk kehilangan banyak hal. Tidak melulu soal uang namun berupa waktu dan kesempatan berharga yang kelak akan susah dilakukan jika memang tidak diprioritaskan. Tapi ya memang jalan kehidupan masing-masing manusia berbeda-beda. Dan ritmenya dalam mengerjakan sesuatu pun juga tidak tentu sama antara satu orang dengan yang lainnya. Malas boleh malas tapi malas yang beralasan pasti, capek, jenuh, mencari pengalaman baru, ataupun memikirkan sesuatu yang tidak biasa. Ya banyak caranya, dan mungkin banyak juga alasannya. Kalau malas yang menghanyutkan dan tidak berguna sama sekali mungkin diri kita sendiri yang tau bagaimana hal itu sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaanya. Apakah malah itu berdosa? Kenapa saya malas? Apakah kita tidak boleh malas? Apa yang bisa diperoleh dari malas?Bagaimana rasa malas bekerja? Kalau digali lebih jauh, pe...

Tahukah Kau?

Tahukah kau, aku masih sering menyambangi blogmu, membaca tulisan-tulisanmu, dari satu judul ke judul yang lainnya. Sering yang aku maksud sebenarnya, tak juga setiap hari. Namun lebih ke sesekali waktu, sesempat mungkin yang aku mampu. Membaca lagi tentangmu. Dari banyak tulisanmu yang aku baca, sepertinya tak ada satupun sesuatu tersirat tentangku. Ya mungkin memang tak ada yang berkesan mendalam dariku untukmu, aku tahu dan aku sadar benar akan hal itu. Sebab itu sudah biasa terjadi dari sejumlah pengalaman-pengalamanku di masa lalu. Sebab siapalah aku ini? Hanya seseorang yang terlalu sering berharap lebih, untuk banyak hal yang tak juga kunjung pasti. Apakah pernah terbesit olehmu untuk sesekali waktu pula mengunjungi blogku dan membaca tulisan-tulisanku yang remeh ini? Ah tidak penting juga sepertinya bagimu kan? Ya sudahlah, aku beralih dulu ke hal-hal lainnya. Daripada aku terus-terusan meracau di sini, mengasihani diriku sendiri, seperti ta...

Tanya Nurani

"Tahun baru lagi Tahun baru banyak resolusi Resolusi tanpa aksi Sama aja basa-basi" Itu adalah penggalan lirik lagu "Tahun Baru Lagi" dari Nostress. Sebuah band indie beliran pop-folk asal Bali. Baiklah, nampaknya aku ingin ikut dalam pusaran keramaian warganet, yang sedang dalam euforia pembahasan mengenai ragam pertanyaan yang muncul dan hal-hal bersinggungan dengan resolusi tahunan. Berhubung kita baru saja melalui pergantian tahun dari 2017 ke tahun 2018. Lalu apa saja yang menarik dari topik ini? Selain dari kontroversi pro dan kontra halal-haramnya mengucapkan selamat tahun baru, yang tak akan dibahas di sini. Hal itu tak lain tak bukan adalah seberapa berhasilkah kita melewati tahun 2017 lalu? Bagaimana kesan-kesan yang timbul dari setiap proses yang telah berlangsung? Apakah semuanya berjalan dengan mulus, lancar, dan baik-baik saja? Apakah target-target yang telah disusun di awal tahun sebelumnya sapu bersih semua? Atau malah sebaliknya, mengala...

Berharaplah

Hampir semua orang pernah merasakan ketidakberdayaan dan segala kepahitan hidup. Dan bisa saja sekarang sedang dalam keadaan letih berpeluh. Tertatih menapaki perjuangan namun terus bertahan. Lalu di sisi lain dari hidup yang sedang berlangsung, mungkin ada pengecualian-pengecualian di antara kita semua, bahwa ada juga sekian manusia yang memang sama sekali tidak pernah tersentuh dan merasakan perihnya kesusahan dalam hidup. Mungkinkah itu terjadi? Bisa jadi iya! Dan mungkin saja kan! Sudah tahu kan jika tuhan itu maha berkuasa lagi maha berkehendak. Urusan mengatur takdir dan jalan hidup manusia adalah perkara biasa yang tak ada apa-apanya samasekali tentunya bagi Dia. Dan siapalah diri kita ini yang merasa begitu berhak ingin tahu pada rencana serta rahasia-rahasia ilahiah? Celakalah memang sudah kita, bila benar begitu adanya. Namun jika dalam realita yang nyata ini, kita sadar bahwa nampaknya keberuntungan juga kebaikan senantiasa selalu menyertai, berusahalah untuk tida...

Berkacalah

Baru sadar diri, kalau selama ini, ketika terlibat percakapan dengan orang lain. Entah itu perempuan atau laki-laki, baik percakapan di daring ataupun luring. Seringkali secara sengaja dan tak tak sengaja, aku seolah paling tahu urusan juga persoalan masalah orang, serasa paling mengetahui jalan pikiran mereka, menganggap diri paling mengerti apa yang harus orang lakukan, berlagak paling paham atas apa yang dibutuhkan orang  dengan menyelipkan kritik, saran, tambahan, masukan, atau apapun istilahnya itu. Padahal mungkin sebenarnya sama sekali tidak dimintai pendapat. Mohon maafkan diri ini bila itu pernah terjadi sekali ataupun lebih. Karena lambat laun kita tahu bahwa, ada kalannya orang tak butuh itu semua, ada kalanya orang bosan dengan kritik, saran, tambahan, masukan, atau apapun istilahnya itu. Benar kan? Ada kalanya yang orang butuhkan hanya dukungan, semangat, juga doa tentunya. Untuk itu aku tak tahu apakah ini adalah sesuatu yang baik atau malah sebaliknya. Dan nampakn...

Ngomongin Guru

Jadi ada banyak sekali guru-guru dari masa lalu yang begitu berjasa dalam hidupku. Dari guru TK misalnya, yang paling aku ingat kala itu adalah Bu Eva, wali kelasku yang begitu menyenangkan dan mengayomi. Bu Siti Asmanah, Kepala Sekolah yang baik hati. Bu Murni, pengganti Kepala Sekolah, yang sama baiknya dengan Bu Siti Asmanaah. Oya nama sekolah TK-ku, TK Baiturrahim. Lain waktu mamakku pernah bercerita, katanya waktu TK, kabarnya sih aku jago menggambar dan mewarnai dulu. Itu kata beliau, aku hanya diceritakan saja. Bahkan pernah suatu kali, aku yang saat itu seharusnya mewakili TK-ku untuk lomba menggambar dan mewarnai di Jakarta sana, terpaksa mengundurkan diri dari lomba. Belakangan aku baru tahu kalau saat itu diwaktu yang berdekatan, Tante Tuti dan Almarhumah Tante Cica, dua orang adik perempuan dari Mamakku akan melangsungkan pernikahan. Jadi mau tak mau agenda sekolah untuk mensukseskan lomba mewarnai itu dibatalkan. Namun berhubung saat itu aku belum begitu peka tentang ...

Begitulah Ego Diri

Rasanya dulu dan mungkin sampai sekarang aku sering sekali menceritakan sedikit dari banyak hal yang aku inginkan dalam hidup ini. Dan sebenarnya, jika ingin jujur sampai sekarang pun aku masih tetap menyimpan keinginan demi keinginan itu untuk bisa hidup sekali lagi, atau pun berkali-kali lagi. Tentu saja tak ada yang salah untuk itu, semua orang pun tahu dan sadar itu sesuatu yang lumrah, sangat manusia sekali. Semua adalah tentang mimpi yang terus menyala dalam relung hati dan jiwa ini. Tentang harapan yang berharap tumbuh menjulang tinggi. Tentang ambisi​-ambisi yang menggerogoti diri dan terpenjara abadi dalam rangka kepala yang membingkai otak kanan dan kiri. Mimpi, harapan, dan ambisi, sejatinya adalah bagian dari nafsu dan ego diri. Dan siapalah kita yang manusia ini? Ah hanyalah insan biasa, yang tiada daya dan upaya menolak segala sajian fatamorgana dunia penuh imajinasi. Seolah-olah kita semua adalah budak yang merasa dirinya calon raja tertinggi. Padahal benar saja...

Nasehat Seorang Pembenci

Kata kakek  "Selagi kau hidup, kau boleh dan bebas melakukan apapun yang kau mau, nak. Apapun itu, termasuk jika kau ingin jadi pembenci. Ya tentu itu semua berdasarkan pilihan dan tanggung jawabmu sendiri. Tapi tolong ingat satu hal pesanku ini, nak. Setidaknya kau tidak jadi pembenci yang dibayar. Jangan jadi budak pembenci yang hanya tahu ikut arus membenci. Tanpa tahu apa yang dibenci, terlebih lagi tak tahu apa tujuan dari membenci itu. Kau harus tahu jelas apa yang kau lakukan dan tahu pasti apa konsekuensinya. Jangan nanti di penghujung jalan, lalu kau menangis darah, tak ada arti lagi semua itu, hanyalah sia-sia belaka. Maka sekali lagi aku ingatkan kau, nak. Jika kau ingin jadi pembenci, jadilah pembenci sejati"

Ocehan Sendiri

Sesekali atau mungkin sering kali aku bisa saja tiba-tiba terpikir, ingin mencari dan mengumpulkan banyak sekali teman. Mungkin karena dalam dimensi dunia yang nyata ini, sedikit sekali teman yang aku miliki. Ada tapi tak banyak. Tak banyak karena memang tak mudah aku temukan. Pun dalam suasana yang tampak akrab, sial memang. Aku bukan orang yang pandai bergaul atau sebutlah menjalin pertemanan. Bukan karena sombong, bukan pula karena pilah-pilih. Pilah-pilih mungkin terjadi, tapi tidak merasa berada pada status sosial dan ekonomi yang berbeda level, ah aku tidak sepicik itu. Aku tidak mengkategorikan diri bahwa aku adalah bagian dari orang-orang introvert, meski mungkin hal itu tak pula bisa aku tolak. Karena jujur saja, sebenarnya aku berharap bisa dengan mudahnya berkenalan dengan orang lain, melebur akrab dalam rasa, emosi, dan kesamaan visi. Tapi kenyataannya semua tidak selalu seperti apa yang diharapkan. Alah, ocehan apa pula ini.